RSS

Welcome To My Blog ... This Is Me Wahidin Alamnuari Rahman I Hope We Can Be A Good Friends And Don't Forget To Follow Me

Sinopsis Scent Of A Woman Episode 4




Ji Wook terkejut mendapati So Kyeong menyusulnya ke Jepang. Tiba-tiba saja So Kyeong muncul di lobby hotel ketika Ji Wook dan Yeon Jae baru saja kembali. Yeon Jae juga tak kalah syok.

So Kyeong menatap bengis.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Sedang apa kau?"
"Apakah ini caramu berbicara dengan orang yang baru kau temui?" seru Ji Wook.
"Itu karena aku sudah bertemu dengannya sebelumnya," sahut So Kyeong tajam. "Haruskah aku memperjelas situasi ini? Ku dengar kau datang kesini untuk urusan pekerjaan. Tapi kau membawa staff wanita rendahan bersamamu? Oh, tidak. Dia bukan lagi seorang staff rendahan, karena dia telah dipecat."
"Apa maksudmu?" Ji Wook tak paham.
"Sepertinya kau tak tahu apapun tentang ini," terka So Kyeong.
"Apa mungkin kau adalah salah satu karyawanku?" tanya Ji Wook pada Yeon Jae.
Yeon Jae terdiam. Kemudian Yeon Jae membenarkan ucapan So Kyeong, namun meralat jika dirinya tak lagi bekerja di Line Tour bukan karena dipecat melainkan mengundurkan diri.
"Miss Lee Yeon Jae, apakah kau telah mengenalku sebelumnya?" potong Ji Wook. Yeon Jae menunduk. "Mengapa kau berpura-pura tak kenal?"
Yeon Jae kebingungan. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Ji Wook.

So Kyeong memandang rendah Yeon Jae. Mengomentari penampilan Yeon Jae yang berubah drastis dan menuduh Yeon Jae sengaja membuntuti Ji Wook ke Jepang.
"Kau ingin merayunya karena dia putra dari Direktur Utama, kan?"
"Kami bertemu disini karena kebetulan." Yeon Jae membela diri. Tentu saja So Kyeong tak percaya. Ia tertawa sarkastik.
"Mengapa aku harus mendengar hal semacam ini? Aku tak melakukan kesalahan. Aku rasa kau tak punya asalan mengatakan hal itu padaku?" ucap Yeon Jae ketus.
"Karena aku tunangannya," sahut So Kyeong.
Yeon Jae syok. Ia memandang Ji Wook yang mengiyakan ucapan So Kyeong.
So Kyeong mulai menyerang Yeon Jae lagi. Ji Wook menegaskan tak ada yang terjadi diantara dirinya dan Yeon Jae. So Kyeong belum selesai. Ia memberi tahu Ji Wook jika Yeon Jae adalah orang yang mencuri cincin milik Andy Wilson sekaligus orang yang telah menamparnya. So Kyeong menuduh Yeon Jae pergi ke Jepang dari menjual cincin Wilson. Jelas Yeon Jae tak terima dengan tuduhannya. Yeon Jae menggunakan semua uang tabungannya. Yeon Jae juga menegaskan jika ia tak pernah mencuri cincin milik Wilson. Kesabaran Yeon Jae habis. Ia berteriak bahwa So Kyeong lah yang pertama kali menamparnya. Ji Wook turun tangan. Ia mengingatkan Yeon Jae untuk memelankan volume suaranya. Airmata Yeon Jae tumpah.
"Aku telah membuatmu malu. Maaf untuk situasi yang tak nyaman ini. Aku harap kau menikmati perjalanan yang menyenangkan." Yeon Jae berpamitan.

Setelah Yeon Jae pergi, masih saja So Kyeong menghinanya. Ji Wook kesal. Ia mengingatkan So Kyeong perjanjian mereka berdua untuk tak saling mengurusi kehidupan pribadi masing-masing sebelum ada ikatan pernikahan. So Kyeong mati kutu (nie orang lama2 nyebelin....).


Yeon Jae berjalan sambil menahan tangis. Hatinya semakin sakit saat melihat sebuah keluarga kecil sedang bercengkrama bersama. Yeon Jae tak yakin dengan sisa umurnya yang tinggal beberapa bulan bisa mempunyai anak. Ponselnya berdering. Pihak rumah sakit di Korea menghubunginya. Mereka menginginkan Yeon Jae segera mendapatkan terapi kanker. Yeon Jae langsung menutup teleponnya.

Yeon Jae menyusuri jalan hingga ke tepian pantai. Indahnya sunset tak membuat hati Yeon Jae membaik. Disana Yeon Jae melihat sepasang bule tengah menari Tango. Mata Yeon Jae berkaca-kaca. Pria bule itu mendekati Yeon Jae dan mengajaknya berdansa. Yeon Jae mengikuti alunan tubuhnya. Ditengah dansa Yeon Jae tak kuasa menahan tangisnya. Ia menumpahkan semua air matanya di pelukan pria bule itu.
"Aku tak tahu masalahmu, tapi jangan terlalu khawatir," hibur pria bule itu.
"Aku ingin hidup. Aku ingin bertemu dengan seseorang dan jatuh cinta padanya. Aku ingin hidup lama dengannya, hidup sangat lama. Aku ingin sepertimu, hidup sampai tua dan beruban. Aku ingin terus hidup. Jika ibuku mati, aku ingin berada disisinya. Menikah, mempunyai anak sampai anakku menikah. Sampai moment itu aku ingin terus hidup," ucap Yeon Jae terisak.


Ji Wook makan malam dengan So Kyeong. So Kyeong masih saja membahas 'kencan' antara Ji Wook dan Yeon Jae. Secara halus So Kyeong mengancam akan memberitahu ayahnya. Ji Wook tak mendengarkan ucapan So Kyeong. Dia malah melamun.
"Aku tak mengharapkan kemunculanmu yang tiba-tiba," ucap Ji Wook dingin.
"Itu terdengar sangat tidak nyaman," sahut So Kyeong kesal.
"Aku tentu tak ingin kesini. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ji Wook.
"Aku tak ingin makan dengan mood seperti ini, aku akan tersedak," sahut So Kyeong marah. Lalu ia berdiri dan melangkah pergi. Ji Wook tak menyusulnya.


Pagi hari Yeon Jae memutuskan kembali ke Korea. Yeon Jae meninggalkan kalungnya yang dimenangkannya saat pertandingan minum bir. Petugas hotel menemukan kalungnya dan menyerahkannya pada Ji Wook. Petugas itu tahu jika Ji Wook dan Yeon Jae saling mengenal. Mungkin Ji Wook bisa mengembalikan kalung itu pada Yeon Jae jika kembali ke Korea. Sayangnya Ji Wook menolak. Setelah petugas itu berlalu, Ji Wook berpikir ulang. Akhirnya ia mau membawa kalung Yeon Jae.


Sesampainya di rumah, suasana hati Yeon Jae bertambah buruk. Rumahnya sudah seperti kapal pecah. Piring-piring kotor menggunung di dapur dan sepertinya selama Yeon Jae pergi ibunya tak pernah membuang sampah. Yeon Jae menahan diri untuk tak marah. Ia mulai membereskan dapur dan mencuci piring. Tak lama ibunya pulang. Tanpa rasa bersalah ibu Yeon Jae langsung menggeledah isi koper putrinya mencari oleh-oleh. Yeon Jae sudah tak bisa menahan kesabarannya. Ia marah-marah. Ibu Yeon Jae hanya bengong melihat sikap putrinya.


Ji Wook juga telah kembali ke Korea. Saat meeting berlangsung Ji Wook terlihat kurang berminat.  Ia sama sekali tak mendengarkan presentase Sang Woo. Direktur Kim kesal melihat sikap Ji Wook. Ia meminta Ji Wook memberikan tanggapan mengenai percobaan tour package-nya ke Jepang.
"Aku hanya ingin bermain," ucap Ji Wook.
Peserta meeting tentu saja terperanjat mendengar ucapan Ji Wook yang asal.
"Jika kau ingin mengembangkan produk wisata yang layak, itu tak akan bermakna tanpa kau mengalaminya sendiri. Yang aku dengar seperti itu. Mengalaminya dan juga melakukannya," tambah Ji Wook.
Presdir Kang tertawa mendengar penjelasan putranya. Direktur Kim terlihat keki.

Ji Wook kembali ke ruang kerjanya. Ji Wook teringat kalung Yeon Jae yang dititipkan padanya. Ji Wook mencari tahu nomor ponsel Yeon Jae dari data resume karyawan.


Pagi-pagi Yeon  Jae cukup terkejut saat mendapat telepon dari Ji Wook. Ji Wook mengajak Yeon Jae bertemu.

Yeon Jae melangkahkan kakinya menemui Ji Wook di sebuah kafe. Ji Wook mengembalikan kalung miliknya. Ji Wook mengomentari penampilan Yeon Jae yang sederhana. Sangat berbeda dengan Yeon Jae yang ditemuinya di Jepang.
"Ya, sebenarnya inilah aku yang sebenarnya. Staff rendahan dengan upah yang menyedihkan. Tak mungkin membeli pakaian bermerek."
"Tapi waktu itu mengapa kau memakai pakaian mahal? Kau juga tinggal di resort eksklusif," potong Ji Wook.
"Waktu itu...karena ada beberapa alasan," jawab Yeon Jae.
"Kau salah jika aku akan menyukai tipe wanita seperti itu? Perkiraanmu sangat keliru," tuding Ji Wook.
Yeon Jae diam saja.

Tudingan Ji Wook makin kejam.
"Bagaimana kau tahu aku akan menginap disana? Kau ingin merayuku, kan? Bahkan dengan Yakuza. Lalu ketika dengan Wilson, kau yang menjawab teleponku, kan? Aku tak tahu kau orang seperti ini. Karena Wilson orang yang sangat pemilih, aku bahkan khawatir kau sanggup berurusan dengannya atau tidak. Dan mengenai cincin yang hilang, bagaimana dengan itu? Bahkan jika itu hanya sebuah alasan, seharusnya kau jelaskan pada dirimu sendiri." 
Mata Yeon Jae berkaca-kaca.
"Apa kau pikir menangis akan menyelesaikan semuanya? Itu tak akan berguna!" seru Ji Wook tanpa perasaan.
Yeon Jae mulai membela diri.
"Apa yang ingin kau dengar? Apa yang ingin kau pastikan? Jika aku berkata aku tak seperti itu, dapatkah kau mempercayaiku? Kebenarannya adalah kau tak percaya padaku. Dalam pandangan generasi kedua keluarga Chaebol, aku hanya pencuri miskin yang mencuri cincin orang lain. Aku tak akan bertindak sejauh itu mencuri barang milik orang lain untuk hidup. Meskipun aku tak tahu berapa harga cincin itu, tetapi siapa yang berani mencuri cincin dari klien? Semua orang tahu jika kau tertangkap, kau akan dipecat. Siapa yang akan pernah melakukan itu? Aku ingin bekerja yang lama untuk Line Tour? Meskipun disana banyak hal-hal yang berarti dan kejam, tetapi sejujurnya pekerjaan itu sangat penting untukku. Dan juga saat Kepala Direktur bertemu denganku di Jepang, seharusnya kau berbicara dengan management disana dan menyelidikinya lebih lanjut. Aku juga sulit percaya ada kebetulan seperti itu."
Setelah menumpahkan semuanya, Yeon Jae pergi. Ji Wook mematung. 

Di luar tiba-tiba Yeon Jae merasakan sakit di perutnya. Wajahnya langsung pucat. Yeon Jae bertumpu pada sebuah pohon. Penyakit kanker di tubuhnya mulai bereaksi.

Ji Wook juga keluar. Ia melihat Yeon Jae yang tengah kesakitan. Ji Wook segera mendekat.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Ji Wook khawatir.
"Tak apa-apa. Kau tak perlu repot-repot," sahut Yeon Jae.
Yeon Jae berusaha bangkit, tapi tubuhnya tak mau berkompromi. Yeon Jae ambruk.

Ji Wook melarikan Yeon Jae ke rumah sakit. Yeon Jae banjir keringat dan wajahnya semakin pucat. Dengan menahan sakit Yeon Jae meminta Ji Wook membawanya ke rumah sakit dimana Eun Suk bekerja.


Akibat insiden kematian Kim Yoo Soon, reputasi Eun Suk memburuk dimata dokter lain maupun pasien. Eun Suk mendapat panggilan jika Yeon Jae masuk rumah sakit. Ia segera mendatangi Yeon Jae yang terbaring dengan kesakitan.
"Sejak kapan ini terjadi?" tanya Eun Suk mulai memeriksa keadaan Yeon Jae.
"Dua puluh menit." Ji Wook menyahut di sampingnya.
Eun Suk menoleh. "Apa kau walinya?"
"Bukan. Aku tak punya hubungan dengan orang itu sama sekali. Cepat pergilah!" usir Yeon Jae.
Yeon Jae tak mau Ji Wook mengetahui riwayat penyakitnya. Ji Wook pergi dengan kesal. Diluar ia menggerutu dengan sikap Yeon Jae.

Setelah Ji Wook pergi, Eun Suk memarahi Yeon Jae karena tak mengindahkan ucapannya untuk menjalankan pengobatan anti kanker. Sudah berulang kali Eun Suk mencoba menghubungi Yeon Jae.
"Eun Suk-ah, aku takut. Aku tak ingin mati seperti ini," ratap Yeon Jae.
"Sudah kukatakan, aku memberimu waktu 6 bulan. Sebelum itu aku tak akan membiarkanmu mati," tandas Eun Suk.


Yeon Jae mulai menjalani tes darah dan CT scan. Awalnya para dokter mengidentifikasi kanker Yeon Jae sebagai kanker kantung empedu, namun setelah pemeriksaan lebih lanjut ternyata Yeon Jae mengidap kanker pankreas. Parahnya kanker itu telah menjalar ke organ inti. Eun Suk mengambil hasil tes darah Yeon Jae. Sepertinya Eun Suk menemukan sesuatu setelah membaca hasil laporannya.


Eun Suk pergi ke kamar Yeon Jae. Yeon Jae sekamar dengan Hee Joo, gadis yang menyukai Eun Suk. Eun Suk tak bicara. Ia hanya menatap Yeon Jae tanpa ekspresi. Yeon Jae kebingungan.
"Apa ini serius?"
"Berapa lama kau sembelit?" tanya Eun Suk.
"Apa? Kira-kira 3 atau 4 hari," jawab Yeon Jae semakin bingung karena pertanyaan Eun Suk sama sekali tak ada hubungannya dengan penyakitnya.
"Sakit perutmu....karena penuh dengan tinja. Itu alasan mengapa kau kesakitan."
Hee Joo langsung tertawa keras. Yeon Jae melongo tak percaya dengan penjelasan Eun Suk. Sambil menahan malu Yeon Jae berkata perutnya benar-benar sakit sampai ingin mati rasanya.
"Pergilah ke toilet, setelah itu kau akan baik-baik saja," perintah Eun Suk.
Pergilah Yeon Jae membuang semua penyebab kesakitannya (hahaha...lucu bgt liat ekspresi Yeon Jae lagi poop).

Keluar dari toilet Hee Joo masih menertawakan Yeon Jae.
"Jangan katakan kau memanggil Dokter Choi Eun Suk karena masalah isi perut? Tahukah kau tadi itu sangat lucu? Wajahmu sangat serius."
"Jangan menertawakanku terus. Itu sangat memalukan," sungut Yeon Jae.
"Aigoo, setidaknya lebih baik malu daripada mati," celetuk Hee Joo.
"Baiklah kau benar." Yeon Jae mengalah.

Yeon Jae menarik tiang infusnya ke tempat tidur. Hee Joo tengah sibuk merias diri. Yeon Jae berkomentar gadis muda tak seharusnya memakai make-up tebal. Yeon Jae menyarankan Hee Joo memakai pelembab.
"Aku 34 tahun. Tapi tak seorangpun dapat menebak usiaku yang sebenarnya. Kau tahu kenapa? Kulitku....Lihatlah!" Yeon Jae memamerkan kehalusan kulit wajahnya. Yeon Jae berkata orang yang selalu memakai make-up bahkan dalam 10 tahun akan terlihat semakin tua.
"Aku tak akan hidup lama. Unnie, kau senang bisa keluar dari rumah sakit. Indeks liver-ku naik. Jadi aku harus tinggal di rumah sakit," sahut Hee Joo.
Yeon Jae langsung terdiam. Ia merasa prihatin. Nasib gadis itu tak jauh berbeda darinya.
"Jika aku meninggalkan rumah sakit, aku harus melakukan 2 hal. Aku akan makan ddeokbuki di pinggir jalan dan menemukan seorang pria untuk tidur denganku."
Yeon Jae menjitak kepala Hee Joo "Gadis muda ini..."
"Aku bukan gadis muda. Umurku sudah 21 tahun," ucap Hee Joo bangga.


Yeon Jae mulai menerima penyakit kanker yang menyerang tubuhnya. Setidaknya hari ini ia tak jadi mati. Hari itu juga Yeon Jae diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Di luar Yeon Jae berpapasan dengan Eun Suk. Yeon Jae terlihat malu. Eun Suk menyarankan Yeon Jae segera melakukan terapi kanker. Ia meminta Yeon Jae datang minggu depan. Sebelum pergi Yeon Jae mengucapkan terimakasih pada Eun Suk.


Yeon Jae bertemu anak kecil di dalam bus. Anak itu memberinya sebungkus permen. Ibu dari anak itu memberitahu Yeon Jae jika anaknya hanya memberi permen pada gadis cantik. Yeon Jae tersenyum.


Setelah itu Yeon Jae berkunjung ke tempat kerja ibunya. Ibu Yeon Jae sedang melayani seorang customer pria. Yeon Jae meledek ibunya yang sepertinya terpikat pada pria itu. Ibunya merasa malu karena pria itu usianya jauh di bawahnya. Yeon Jae mengajak ibunya ke salon kecantikan. Disana ia memanjakan ibunya dengan perawatan tubuh.


So Kyeong tengah menyiapkan serangan untuk Yeon Jae. So Kyeong berniat menggugat Yeon Jae ke pengadilan atas tuduhan kerugian akibat konser Andy Wilson yang dibatalkan. Tak tanggung-tanggung So Kyeong meminta ganti rugi sebesar 10 milyar won. Jika Yeon Jae menempuh jalan mendiasi pun, Yeon Jae tetap harus membayar kompensasi sebesar 300 juta won. So Kyeong tersenyum licik.


Ji Wook masih saja memikirkan Yeon Jae. Ia penasaran mengapa Yeon Jae tiba-tiba sakit. Sadar jika hal itu bukan urusannya, Ji Wook buru-buru menghilangkan kegundahannya.

Ji Wook pergi ke ruangan para staff-nya. Manager Noh tengah memarahi anak buahnya. Ia stress harus mengurusi acara pembukaan Rute Wisata baru yang berbarengan dengan peak season (di Korea peak season berlangsung pada bulan Juli-Agustus, biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru. Pada bulan itu banyak turis yang berkunjung ke Korea). Menghadapi peak season tentu saja Line Tour cukup sibuk. Ji Wook mendengarkan semua keluhan Manager Noh dari belakang. Manager Noh ketakutan saat tahu Ji Wook mendengarkan semua celotehannya. Ji Wook tak marah. Ia malah berniat mentraktir semua staff-nya.

Ji Wook dan para staff berjalan beriringan menuju lift. So Kyeong menelepon Ji Wook mengajak makan malam bersama ayahnya. Ji Wook menolak dan lebih memilih pergi bersama staff-nya. So Kyeong keki.

Ji Wook dan para staff minum-minum bersama. Mereka membicarakan kesulitan para staff mengurus acara pembukaan Rute Wisata baru disaat-saat sibuk. Na Ri mendapat telepon. Ia mendapat kabar bahwa Sohn Byung Ho tak bersedia datang dalam acara pembukaan itu. Sohn Byung Ho merupakan property speculator. Mereka memerlukan kerjasama dari Sohn Byung Ho untuk mengembangkan tempat-tempat wisata baru. Mereka tak punya waktu tersisa jika harus membujuk Sohn Byung Ho, karena kakek itu termasuk orang yang sulit dirayu. Kepala Bagian Yoon mengusulkan untuk menghubungi Yeon Jae. Yeon Jae sudah mengenal baik Sohn Byung Ho. Yeon Jae juga sebelumnya bergabung dalam tim mereka. Melihat wajah-wajah tak setuju, Kepala Bagian Yoon langsung terdiam. Manager Noh jelas tak mau repot-repot melibatkan Yeon Jae lagi.
"Orang seperti apa Lee Yeon Jae?" tanya Ji Wook penasaran.
"Jangan menyebut dia lagi. Hanya dengan membicarakannya saja membuat aku ingin menggertakkan gigi. Dia tak punya kemampuan apa-apa untuk mengurus masalah ini. Dia juga tak tahu berterimakasih. Sepanjang hidupku baru pertama kalinya aku ditusuk dari belakang oleh orang lain," seru Manager Noh dengan penuh dendam.
Hye Won merasa risih mendengar ucapan Manager Noh. Ji Wook diam tanpa komentar.


Ibu Yeon Jae terlihat bahagia setelah Yeon Jae mengajaknya bersenang-senang. Mereka kembali ke rumah sambil mengobrol. Kakek pemilik rumah baru saja membawa seekor anjing. Kakek marah-marah karena Yeon Jae dan ibunya dianggap berisik. 

Yeon Jae tidur di kamar ibunya. Ia berjanji untuk meluangkan waktu bersama ibunya seperti tadi. Ibu Yeon Jae tersenyum senang. 

Setelah ibunya tertidur, Yeon Jae kembali ke kamarnya. Yeon Jae baru sadar telah menghabiskan banyak uang untuk liburannya ke Jepang. Namun Yeon Jae tak menyesalinya. Yeon Jae membuat 20 daftar keingingan terakhir sebelum dirinya mati.
1.  Membuat ibu tertawa setidaknya satu hari.
2.  Balas dendam pada orang yang telah menyengsarakanku.
3.  Belajar tarian Tango
4.  Tidak menahan apa yang aku ingin, makan dan pakai.
5.  Mencoba gaun pengantin.
6-18. -----
19.  Melakukan semua hal dengan orang yang kucintai.
20.  Finally, menutup mataku dalam pelukan orang yang kucintai.


Siap2 deg-degan dengan scene ini...
Ji Wook tengah mandi. Tiba-tiba saja dia mendengar suara Yeon Jae 'Bisayiro Makka....Bisayiro Makka.' Ji Wook bingung. Ia teringat kebersamaannya dengan Yeon Jae ketika hujan-hujanan di Jepang. Waktu itu Ji Wook bertanya pada Yeon Jae bahasa Jepangnya orang kurus. Yeon Jae menjawab Bisayiro Makka.


Keinginan nomor 4, tak menahan apa yang diinginkan, makan dan pakai. Untuk melaksanakan keinginannya itu, Yeon Jae pergi ke salon untuk memangkas rambutnya. Yeon Jae terlihat fresh dengan potongan rambut barunya yang diatas bahu.

Setelah itu Yeon Jae membeli ponsel baru. Hal pertama yang dilakukan dengan ponsel barunya adalah menghapus nomor telepon Ji Wook. Yeon Jae mendapat telepon dari Hye Won. Yeon Jae diminta datang ke Line Tour.


Line Tour tengah dipusingkan oleh Sohn Byung Ho. Manager Noh terpaksa memanggil Yeon Jae. Mereka berharap Yeon Jae dapat membujuk Sohn Byung Ho. Setelah dihubungi, Yeon Jae langsung datang.
"Mengapa harus aku yang pergi?" protes Yeon Jae setelah tahu permintaan Manager Noh.
"Sejak dimulainya musim semi, kita bersama-sama menyiapkan Rute Wisata baru. Mengapa kau berpura-pura tak tahu?" ucap Manager Noh ketus.
"Aku sudah mengundurkan diri," sahut Yeon Jae.
"Apa kau tak tahu sekarang perusahaan sedang mengalami kesulitan. Oleh karena itu, tak bisakah kau berbaik hati?"
"Berbaik hati?" seru Yeon Jae.
"Kau bekerja disini bukan untuk sebulan atau setahun. Tapi sudah 10 tahun. Kau mengandalkan perusahaan ini untuk makan. Apa itu tak cukup dibenarkan untuk membantu?"
"Aku tak akan melakukannya," tegas Yeon Jae.


Seluruh staff terkejut dengan penolakan Yeon Jae. Yeon Jae dulu orang yang gampang dimintai tolong, bahkan disuruh-suruh. Yeon Jae langsung berpamitan. Manager Noh menahan Yeon Jae. Dia menawarkan bayaran. 
"Berapa banyak kau bersedia membayarku?" tantang Yeon Jae.
"Berapa banyak yang kau butuhkan? 100 ribu won atau 200 ribu won?"
Yeon Jae kembali menolak. Manager Noh menambahkan bayaran 300 ribu won.
"Bahkan jika 1 juta won, aku tak mau. Kau harus berlutut dan meminta maaf padaku. Mungkin akan kupertimbangkan."
"Mengapa aku harus melakukan itu?" seru Manager Noh marah.
Yeon Jae lebih marah. Manager Noh ingin meminta bantuannya, namun masih saja bersikap kasar padanya.  Yeon Jae merasa hanya membuang-buang waktu jika menuruti perintahnya. Yeon Jae berkata jika dirinya sibuk.
Yeon Jae melangkah pergi. Ia berpapasan dengan Ji Wook. Ji Wook mendengar semua percakapan disana. Ia mengkikuti langkah Yeon Jae menuju lift.
"Apa kau tipe orang yang menyukai uang? Baiklah, aku akan memberimu 1 juta won." Ji Wook menyanggupi.
"Sepertinya kau tak memahami kata-kataku. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sibuk," sahut Yeon Jae.
"Dan kau punya waktu pergi ke salon dan memotong rambutmu?" sindir Ji Wook.
"Ada yang salah? Apa aku tak boleh pergi ke salon memotong rambutku? Untukku ini sangat penting," seru Yeon Jae marah.
Yeon Jae masuk ke dalam lift. Menatap Ji Wook di depannya dan berkata sebelum pintu lift tertutup "Sudah jelas kukatakan bahwa sebuah permohonan maaf lebih penting dibandingkan uang. Sepertinya orang sepertimu tak bisa mengerti."
Ji Wook mematung.

Ji Wook meminta pertanggungjawaban dari Manager Noh. Kemarin baru saja Manager Noh menjelek-jelekkan Yeon Jae yang dibilangnya tak berguna dan tak mempunyai kemampuan. Sekarang kenyataannya Ji Wook tahu tak ada staff lain yang dapat meng-handdle pekerjaan Yeon Jae. Ji Wook mengambil alih semua pekerjaan itu.

Ji Wook mempelajari berkas-berkas yang disodorkan staff-nya. Ji Wook melihat-lihat brosur tempat wisata yang akan dibuka. Salah satu gambar disana membuat Ji Wook tertarik. Sebuah bukit dengan pohon besar.


Ji Wook makan malam dengan Ayahnya, So Kyeong dan calon mertuanya. So Kyeong mengatakan niatnya menggugat Yeon Jae ke pengadilan. Jelas Ji Wook tak menyukai rencana So Kyeong.

Mengantar So Kyeong ke butik, Ji Wook menyampaikan keberatannya. Ia tak suka dengan cara So Kyeong. Dengan jengkel, Ji Wook meninggalkan So Kyeong. 


Yeon Jae melaksanakan keinginannya yang ketiga. Belajar tarian Tango. Yeon Jae mencari tempat kursus Tango. Dia masuk ke dalam sebuah studio. Disana tampak dua orang pria dan wanita tengah mempertunjukkan tarian tango. Yeon Jae terlihat kagum.

Kening Yeon Jae berkerut karena sepertinya ia mengenali pria itu. Tanpa terduga pria yang disebut Ramses itu adalah Kepala Bagian Yoon. Hanya saja dia memakai wig. Kepala Bagian Yoon kabur begitu melihat Yeon Jae. 

Yeon Jae mengejar Kepala Bagian Yoon. Kepala Bagian Yoon meminta Yeon Jae menyembunyikan identitasnya baik di tempat kerja maupun di studio Tango. Yeon Jae mengerti. Kepala Bagian Yoon dikenal dengan nickname Ramses. Disana ia merupakan pengajar Tango.


Ji Wook mulai mencari informasi mengenai gugatan yang dilayangkan So Kyeong pada Yeon Jae. Ia bertanya pada Sang Woo. Nilai gugatan So Kyeong sebesar 300 juta won. Ji Wook terlihat stress. Tapi lagi-lagi Ji Wook sadar jika itu bukan urusannya.


Ji Wook mendatangi bukit yang sedang dikembangkan untuk menjadi tempat wisata baru. Tepat ditengah bukit itu ada sebuah pohon besar. Ingatan Ji Wook berputar ke masa kecilnya. Ji Wook dan ibunya menanam benda di dalam tanah. Mereka berjanji akan membukanya setelah Ji Wook berusia 20 tahun. Ji Wook berjalan mendekat. Tiba-tiba pohon besar itu menghilang. Ternyata pohon itu hanya ada dalam bayangan Ji Wook saja. Disana hanya ada sebuah hamparan bukit kosong. 

Sohn Byung Ho tinggal di dekat bukit itu. Ji Wook pergi mencarinya untuk meminta persetujuan darinya.
"Sudah kukatakan dengan jelas. Jika kau menginginkan apapun dariku, hanya kirimkan saja rambut keriting kesini," seru Sohn Byung Ho begitu melihat kedatangan Ji Wook.
"Rambut keriting? Apa yang kau maksud Lee Young Jae?"
"Aku sudah mengatakan hal yang sama berulang kali. Aku tak ingin mengatakan apapun denganmu. Pergilah!" usir Sohn Byung Ho.
"Kakek, kenapa harus Lee Young Jae?" tanya Ji Wook tak mengerti.


Manager Noh mengajak Yeon Jae bertemu di Kafe. Manager Noh setuju memberi Yeon Jae bayaran 1 juta won. Yeon Jae menolak, karena yang diinginkan hanyalah permintaan maaf. Yeon Jae ingat daftar keinginan nya nomor ke-2. Yeon Jae ingin Manager Noh meminta maaf untuk semua pelecehan dan kekerasan yang diterimanya selama bekerja di Line Tour.
Yeon Jae dibawa ke kantor. Manager Noh mulai melakukan permintaan maaf seperti keinginan Yeon Jae di depan semua staff. Manager Noh terlihat ragu-ragu lalu dengan terpaksa berdiri di tengah ruangan. Manager Noh mempersembahkan sebuah tarian dengan menjewer kedua kupingnya dan menggoyang-goyangkan bokongnya. Goyangannya membentuk sebuah tulisan Lee Yeon Jae-sshi. Semua staff termasuk Yeon Jae menahan tawa. 

Ji Wook keburu datang sebelum hukuman untuk Manager Noh selesai. Ji Wook menatap tajam ke arah Yeon Jae. Ji Wook memberitahu bahwa dirinya baru saja menemui Sohn Byung Ho. Manager Noh langsung menyudahi hukumannya. Ia merasa masalah mereka dengan Sohn Byung Ho telah selesai.
"Lee Yeon Jae keluarlah!" perintahnya lantang.
"Manager Noh," protes Yeon Jae.
"Kau tak mendengarku. Aku bilang keluarlah! Kau sudah resign, mengapa kau kembali?" seru Manager Noh lagi.
"Apa ada sesuatu diantara kalian berdua?" tanya Ji Wook.
"Ini tentang masalah Sohn Byung Ho. Dia memintaku melakukan tarian spesial, setelah itu dia mau menyelesaikan masalah kita. Aku benar-benar tak punya energi untuk melakukan ini," adu Manager Noh.
"Benarkah? Tapi apa yang harus kita lakukan? Permintaan bodoh yang Lee Yeon Jae buat, sepertinya kau harus melakukannya?" ucap Ji Wook pada Manager Noh.

Manager Noh syok. Ia pikir dirinya sudah terbebas dari hukuman karena Ji Wook secara pribadi telah menemui Sohn Byung Ho. 
"Aku?" tanyanya tak percaya.
"Ya, kau harus melakukannya," jawab Ji Wook.
Yeon Jae menatap Ji Wook. Ia juga tak percaya Ji Wook membelanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sinopsis Scent Of A Woman Episode 3




Yeon Jae menguntit Ji Wook yang secara kebetulan berlibur juga ke Jepang. Takut kepergok, Yeon Jae berlari menghindar dengan menaiki salah satu yacht. Tanpa disangka Ji Wook mengikutinya dan mengejutkan Yeon Jae karena mengenalnya. Yeon Jae tak menyangka pegawai rendahan sepertinya dirinya dikenal oleh Kepala Direktur.
Yacht yang ditumpangi mereka tiba-tiba berlayar. Yeon Jae kehilangan keseimbangan dan oleng. Reflek Ji Wook segera menangkap tubuh Yeon Jae. Insiden itu membuat wajah mereka saling berdekatan. Yeon Jae terpesona melihat ketampanan Ji Wook.

Tenyata dugaan Yeon Jae salah. Ji Wook mengira Yeon Jae adalah tour guide-nya. Ji Wook datang ke Jepang untuk melakukan percobaan atas idenya meluncurkan paket wisata murah guna kepentingan Line Tour. Yeon Jae ingin menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka, namun melihat ketampanan Ji Wook tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya.

Ji Wook kurang menikmati perjalanan lautnya. Ia mengajak Yeon Jae segera kembali ke dermaga. Berlayar bagi Ji Wook tak ada yang dilihat kecuali lautan dan udara. Semakin lama berlayar hanya semakin mahal biaya sewa yang harus mereka bayar. Yeon Jae tak sependapat, itulah mengapa mereka harus menikmati perjalanan karena tak setiap saat mereka bisa berlayar dengan yacht.

Ji Wook masuk ke dalam yacht. Yeon Jae menikmati udara lautan. Teringat pekerjaan barunya sebagai tour guide, Yeon Jae menyusul Ji Wook ke dalam. Yeon Jae mendapati Ji Wook terlelap di kamar. Kesempatan ini digunakannya untuk mengagumi wajah ganteng Ji Wook. Bertemu dengan Ji Wook secara tak terduga, Yeon Jae merasa hidupnya tak terlalu buruk. Ia meminta maaf pada Miss Lee, tour guide Ji Wook yang sebenarnya.


Miss Lee asli terlihat kebingungan di dermaga. Dandanannya aneh banget dengan bandana besar plus eyeliner tebal. Ia menghubungi agen travel karena belum bertemu dengan Ji Wook. Agen travel segera menghubungi Ji Wook untuk konfirmasi.


Ji Woo terbangun karena ponselnya berbunyi. Yeon Jae segera bersembunyi. Telepon itu bukan berasal dari agen travel. Dari nada bicara Ji Wook yang terlihat enggan, sepertinya Sang Woo yang menghubunginya. Ji Wook kesal karena Sang Woo ikut ke Jepang hanya untuk mengawasinya atas perintah Presiden Kang.

Yeon Jae dan Ji Wook kembali ke dermaga. Ji Wook bertanya apa lagi yang harus mereka lihat. Yeon Jae gelagapan. Ponsel Ji Wook berbunyi lagi. Kali ini dari agen travel. Ji Wook belum menyadari telah salah mengenali orang. Ia malah menegaskan sudah bertemu dengan Miss Lee. Disampingnya Yeon Jae terlihat panik.


Di rumah sakit, suster dan dokter magang sibuk membicarakan Eun Suk yang mirip dengan salah satu tokoh kartun web. Mereka yakin karakter dokter yang berperangai buruk dalam cerita komik itu adalah Eun Suk. Salah satu dari mereka membela Eun Suk yang tak seburuk tokoh kartun itu. Mendadak Eun Suk muncul. Tak mau kena semprot mereka menyembunyikan hal itu dari Eun Suk.
Bersama 4 dokter magang, Eun Suk mulai mengontrol pasien-pasiennya. Eun Suk terkenal dengan sikapnya yang dingin. Menangani pasiennya pun ia tak menghilangkan sikapnya itu. Tak ada sikap ramah yang seharusnya mencitrakan seorang dokter. Bahkan tanpa tedeng aling-aling mengucapkan kata-kata kejam mengenai kondisi pasiennya. Hampir semua pasien tak menyukainya. 


Seorang pasien wanita mengejar Eun Suk di koridor. Hanya wanita muda itu yang terlihat mengagumi Eun Suk. Terakhir Eun Suk mengecek pasien Kim Yoo Soon yang koma. Melihat tak ada harapan hidup, dengan gampangnya Eun Suk menyarankan kepada suaminya untuk membawa istrinya pulang. Tuan Kim mengejar Eun Suk. Ia tak mau menyerah dengan kondisi istrinya. Eun Suk mengingatkan bahwa istrinya telah dirawat selama 8 tahun dan tak ada kemajuan sama sekali. Tuan Kim tak peduli walaupun harus menunggu selama 20 tahun. Ia memohon agar Eun Suk bersedia meneruskan pengobatan untuk istrinya. Eun Suk tetap pada pendiriannya. Delapan tahun waktu yang cukup untuk menyerah.


Yeon Jae dan Ji Wook pergi menonton pertunjukkan kesenian. Setelah itu Yeon Jae membawa Ji Wook melihat pohon Kajimaru. Dalam bahasa Korea pengucapan Kajimaru terdengar seperti 'jangan pergi'. Yeon Jae membuat lelucon dengan kata-kata itu. Ji Wook hanya tersenyum simpul dan malah melengos pergi. Yeon Jae mampir ke toko es krim. Di Okinawa terkenal dengan sweet potato ice cream. Yeon Jae menyarankan Ji Wook untuk mencobanya. Ji Wook kurang berminat. Ia berpikiran datang ke Jepang untuk bekerja bukan untuk makan.
"Bukankah kau membuat gagasan apa yang bagus untuk liburan? Bagaimana kau bisa tahu tanpa mencobanya? Kau harus mencobanya, memakannya dan melihat apakah hal-hal itu cukup menyenangkan untuk orang lain." Yeon Jae memberi masukan. Ia ngotot mentraktir Ji Wook es krim.


Miss Lee tak sabar menunggu Ji Wook. Ia kembali menghubungi agen travel dan mulai mengomel. Agen travel kebingungan karena tadi Ji Wook mengaku telah bertemu dengan Miss Lee. 


Ji Wook kembali dihubungi oleh agen travel. Kali ini Ji Wook yang kebingungan. Ia menoleh pada Yeon Jae dan kembali menegaskan telah bertemu dengan Miss Lee. Yeon Jae ketakutan. Tiba-tiba saja seorang pria tak dikenal menabrak Ji Wook dan menjatuhkan ponselnya. Ji Wook memungut ponselnya dan baru sadar dompetnya telah raib. Pria itu telah mencopet dompetnya. Yeon Jae hendak mengejar pencopet itu. Ji Wook segera menyambar tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Tak apa-apa. Hanya ada card dan uang didalamnya," cegah Ji Wook.
"Jadi kau membiarkan pencopet mengambil barang milikmu seperti itu?" seru Yeon Jae tak terima.

Yeon Jae nekat mengejar pencopet itu. Mau tak mau Ji Wook ikut mengejarnya. Yeon Jae berteriak memanggil pencopet itu. Si pencopet terus berlari tanpa memperhatikan jalan di depannya. Akibatnya ia menabrak seseorang yang tengah mengangkut kardus. Yeon Jae menyerbu. Ia memukuli pencopet itu dan meminta dompet Ji Wook dikembalikan. Pencopet itu berusaha kabur hingga membuat Yeon Jae terjatuh. Ji Wook muncul. Yeon Jae segera menyuruh Ji Wook mengejar pencopet itu tanpa mempedulikan dirinya yang terluka.

Yeon Jae tertatih-tatih mencari kemana arah si pencopet kabur. Tanpa disangka si pencopet berlari ke arahnya. Yeon Jae mencopot sepatunya dan melemparkannya pada si pencopet. Namun lemparannya meleset dan malah mengenai pelipis Ji Wook yang berlari di belakang si pencopet. Ji Wook ambruk sambil meringis kesakitan. Yeon Jae syok lemparannya salah sasaran. Ia bergegas mendekati Ji Wook.
Si pencopet merasa aman. Tak terduga Tuan Murakawa menghadangnya. Murakawa adalah pria botak dengan tato gambar kartun yang pernah bertemu dengan Yeon Jae ketika salah kamar di hotel.
"Menyingkirlah. Ini teritori Inagawa!" Ancam pencopet itu.
"Yakuza Tokyo," ucap Murakawa tanpa rasa takut.
Mereka terlibat perkelahian. Pencopet itu memilih mundur dan kabur. Murakawa mengambil dompet Ji Wook yang terjatuh lalu melemparkannya pada Ji Wook. Kemudian ia pergi tanpa berbicara sepatah katapun.

Ji Wook kesakitan sambil memegangi pelipisnya yang terluka. Yeon Jae merasa bersalah.
"Apa sangat sakit?" tanyanya.
"Lalu apa ini seharusnya tak sakit?" jawab Ji Wook kesal.
Yeon Jae hendak menyentuh luka di pelipis Ji Wook. Ji Wook mengelak. Merasa letih Ji Wook berencana mengakhiri perjalanan mereka hari ini dan dilanjutkan esok hari. Yeon Jae memohon agar mereka pergi ke satu tempat lagi. Ia memegangi perutnya yang keroncongan.
Yeon Jae mengajak Ji Wook makan di salah satu restoran yang terkenal di Okinawa. Yeon Jae menyodorkan es batu untuk mengompres pelipis Ji Wook. Ji Wook yang tahu Yeon Jae terluka mengunakan es batu itu untuk mengompres lengan Yeon Jae. Mereka memesan sepiring Ikasumi Yakisoba. Sejenis mie yang tampilan warnanya hitam karena tinta cumi-cumi (mirip jajangmyun). Ji Wook tertawa melihat mulut Yeon Jae yang menghitam. Yeon Jae mengira Ji Wook tertawa karena mendengar nama mie itu yang terdengar lucu. Ia malah membuat beberapa lelucon. Ji Wook semakin tertawa keras. Yeon Jae baru sadar mulut dan gigi Ji Wook menghitam.
"Jadi kau tertawa karena mulutku?" gerutu Yeon Jae.
"Apa kau berpikir aku tertawa karena leluconmu?" tanya Ji Wook balik.


Hye Won di transfer untuk menggantikan posisi Yeon Jae. Manager mengeluh karena berharap pegawai yang menggantikan Yeon Jae seharusnya lebih muda. Hye Won hanya menghela nafas kesal. Manager menyuruh Kepala bagian, Yoon Bong Sil menunjukkan meja kerja untuk Hye Won. Insiden tak sengaja terjadi. Kepala Bagian Yoon melihat strapples di kursi yang hendak di duduki Hye Won. Reflek ia mengambil stapples itu tepat bersamaan Hye Won mendaratkan tubuhnya. Hye Won syok karena mengira mendapat pelecehan seksual.


Yeon Jae dan Ji Wook melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah pantai. Yeon Jae meluapkan kegembiraannya dengan berlarian ke arah pantai. Ji Wook melihat karang dengan lubang di tengahnya. Iseng ia mengintip karang itu. Tiba-tiba Yeon Jae muncul di arah seberang. Ji Wook tak dapat menahan senyum. Yeon Jae menghampiri Ji Wook dan memberinya seekor keong. Lalu ia berlari lagi ke arah pantai. Ji Wook tertawa melihat tingkah Yeon Jae.


So Kyeong bertemu dengan kakak lelakinya. Hubungan mereka kurang harmonis. Kakaknya tahu So Kyeong selalu bermasalah dengan pria. Ia memperingatkan So Kyoeng agar berhati-hati dengan Ji Wook.


Yeon Jae dan Ji Wook kembali ke hotel. Yeon Jae berniat memberitahu Ji Wook bahwa dirinya bukanlah Miss Lee, tour guide Ji Wook yang sebenarnya.
"Mungkin aku bukan Miss Lee yang kau pikir."
"Apa maksudmu?" tanya Ji Wook tak mengerti.
Yeon Jae hendak menjelaskan, tapi tiba-tiba Miss Lee yang asli muncul. Ia langsung menyapa Ji Wook dan mengaku kesulitan menghubungi Ji Wook.
"Siapa kau?" tanya Ji Wook bingung.
"Aku yang seharusnya menjadi tour guide-mu hari ini. Lee Joo Yung," jawab Miss Lee.
Yeon Jae tegang. Ji Wook bertambah bingung karena di hadapannya ada 2 orang yang mengaku sebagai Miss Lee. Yeon Jae menjelaskan bahwa dirinya bukan Miss Lee yang ingin ditemui Ji Wook.
"Lalu mengapa kau pergi denganku hari ini?" tuntut Ji Wook pada Yeon Jae.
"Aku tak punya kesempatan untuk menjelaskan...." Yeon Jae kebingungan memberikan alasan. "Aku terlalu senang. Tapi sebenarnya aku juga Miss Lee. Lee Yeon Jae."
Miss Lee mengomeli Yeon Jae. Ia curiga Yeon Jae punya motif jahat terhadap Ji Wook. Ia menuduh Yeon Jae sebagai penipu atau orang yang hanya ingin memoroti uang Ji Wook. Tentu saja Yeon Jae menyangkal. Ji Wook menghentikan perdebatan.
"Hentikan! Kita akan bertemu besok disini?" tanyanya.
"Ya. Saat  sarapan jam 8 pagi," jawab Miss Lee.
Ji Wook langsung pergi. Ia jelas marah. Yeon Jae mematung di tempatnya berdiri. Ia tak bermaksud membohongi Ji Wook.


So Kyeong melamun di kamarnya. Ia kembali bernostalgia dengan memandangi fotonya dan mantan pacarnya di dalam ponsel. So Kyeong merasa sudah saatnya melupakan mantan pacarnya yang ternyata hanya memanfaatkan kekayaan keluarganya saja. So Kyeong menghapus semua foto-foto itu. Sepertinya ia mulai memantapkan hatinya menerima pernikahannya dengan Ji Wook.


Yeon Jae menghubungi ibunya. Ibu Yeon Jae masih marah padanya karena pertengkaran mereka tempo hari setelah Yeon Jae menolak perjodohan lewat biro jodoh. Ibu Yeon Jae marah-marah karena Yeon Jae asyik berlibur sementara ia harus mengurusi closet yang mampet.


Yeon Jae berjalan-jalan seorang diri di sekitar hotel. Ia melihat sepasang kekasih tengah berlatih berjalan di altar didalam capel. Yeon Jae merasa iri melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah calon mempelai itu. Murakawa yang menolongnya tadi pagi ternyata juga ada disana sambil menerawang ke arah sepasang kekasih itu. Yeon Jae mendatangi Murakawa. Kesempatan ini digunakan Yeon Jae untuk mengucapkan terimakasih. Murakawa memandang Yeon Jae tanpa ekspresi. Yeon Jae menjadi jengah. Yeon Jae mencoba berbasa-basi mengomentari sepasang kekasih di dalam ruangan itu. Murakawa malah pergi.

Yeon Jae kembali berjalan-jalan di pinggir kolam renang sambil menghitung bintang di langit. Yeon Jae berharap ada bintang jatuh sehingga ia bisa membuat harapan. Yeon Jae syok saat tiba-tiba Ji Wook sudah berdiri di hadapannya.
"Aku minta maaf. Jika aku sudah mengacaukan jadwalmu." Yeon Jae meminta maaf.
Ji Wook sudah tak mempermasalahkan hal itu lagi karena selama tur Yeon Jae menunjukkan tempat-tempat wisata yang menarik.
"Besok kau akan pergi dengannya?" tanya Yeon Jae.
"Tentu saja," jawab Ji Wook cepat.
Yeon Jae memberi masukan. Apa yang dilakukan Ji Wook di Jepang seharusnya bukan semata-mata hanya untuk pekerjaan.
"Tanpa mencobanya...Tanpa bersenang-senang...Bagaimana bisa kau memberitahu orang lain bahwa itu akan menjadi liburan yang baik? Jangan menganggapnya sebagai pekerjaan dan hanya bersenang-senanglah. Cara itu dapat memunculkan ide liburan yang lebih baik. Tur wisata yang kau buat dengan mengambil perjalanan ke Jepang mungkin saja menjadi liburan yang pertama untuk orang lain. Dan untuk yang lainnya sebelum dia mati, mungkin menjadi liburan terakhirnya."
Ji Wook termenung.


Eun Suk dipanggil menghadap Dokter Kepala. Mereka membahas kesediaan Yeon Jae untuk mencoba naturopathic treatment, pengobatan kanker terbaru yang sedang dikembangkan oleh rumah sakit. Eun Suk memberitahu jika Yeon Jae menunda pengobatan. Dokter Kepala meminta Eun Suk menghubungi Yeon Jae dan meyakinkannya untuk melakukan pengobatan segera mungkin.

Di kantornya Eun Suk mencoba menghubungi Yeon Jae. Namun ia teringat perkataan Yeon Jae terakhir kali saat bertemu dengannya. Yeon Jae marah dengan sikap dingin Eun Suk yang kurang peka terhadap perasaannya yang hancur saat itu. Yeon Jae berharap tak ditangani oleh dokter seperti Eun Suk. Kata-kata Yeon Jae mengurungkan niat Eun Suk menghubunginya.


Ji Wook bertemu dengan Miss Lee di lobby hotel. Dandanan Miss Lee masih saja aneh. Ji Wook baru menyadarai dandanan Miss Lee yang nyeleneh. Mereka berencana pergi snorkeling, namun Miss Lee datang dengan dress putih panjang dengan make up berat. Miss Lee enggan ikut menyelam ke laut karena takut cahaya matahari merusak kulitnya.
Yeon Jae lewat. Ia memberi salam pada Ji Wook yang menoleh padanya. Kemudian melangkah keluar. Ji Wook tampak berpikir. Tiba-tiba saja ia membatalkan rencana kepergiannya bersama Miss Lee. Orang seperti Miss Lee rasanya tak cocok menjadi tour guide untuknya.

Ji Wook berlari mengejar Yeon Jae. Di luar Yeon Jae hendak pergi dengan taksi. Ji Wook menerobos masuk ke dalam taksi sebelum Yeon Jae menutup pintu. Yeon Jae jelas terkejut.
"Dibandingkan dengan Miss Lee yang asli, aku pikir akan lebih menyenangkan dengan yang palsu," ucap Ji Wook menjawab wajah kebingungan Yeon Jae.


Yeon Jae dan Ji Wook ber-snorkeling bersama. Setelah itu mereka menikmati hamparan lautan biru yang menakjubkan. Ji Wook menilai Yeon Jae pasti sangat menikmati hidupnya karena apapun yang dilihatnya terlihat menyenangkan.
Yeon Jae membenarkan. "Hidup itu sangat menyenangkan. Aku tak pernah bermimpi hari seperti ini akan terjadi selama hidupku."
"Ada apa dengan hari ini?" tanya Ji Wook.
"Siapa aku...Apa yang terjadi denganku. Hari ini adalah sebuah hari dimana aku tidak akan melupakan semuanya," jawab Yeon Jae.


Eun Suk menyuruh suster menghubungi Yeon Jae untuk mengkonfirmasikan mengenai pengobatan kanker-nya. Namun sayang Yeon Jae tak menjawab teleponnya. Eun Suk meminta suster itu terus menghubungi Yeon Jae sampai berhasil.


Tuan Kim yang istrinya koma kembali memohon agar Eun Suk bersedia meneruskan pengobatan untuk istrinya. Ia bersedia membayar berapapun besarnya biaya pengobatan itu. Eun Suk tetap angkat tangan. Memaksa pasien untuk terus bertahan, Eun Suk merasa tak adil untuk si pasien sendiri. Tanpa diduga Kim Yoo Soon terbangun dari koma-nya. Mereka sama-sama syok dengan keajaiban itu. Namun Eun Suk malah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun (mulai sebel deh sama tingkah si dokter ini). Kim Yoo Soon langsung ambruk. 


Yeon Jae dan Ji Wook melanjutkan perjalanan mereka dengan mengunjungi capel wedding yang merupakan salah satu tujuan wisata yang terkenal di Okinawa. Yeon Jae dan Ji Wook berkesempatan melihat langsung sepasang kekasih mengikat janji pernikahan di capel itu.

Ji Wook menyaksikan prosesi pernikahan itu dengan serius. Tak sengaja Yeon Jae melihat Murakawa berdiri di luar sambil memandang haru pada kedua mempelai. Sesekali Murakawa mengusap matanya. Yeon Jae menatapnya dengan keheranan.

Setelah acara pernikahan usai, Yeon Jae masih saja memikirkan Murakawa. Ji Wook menahan langkah Yeon Jae. Ia menunjuk rombongan pria yang berjalan ke arah mereka. Salah satu pria itu adalah si pencopet yang tempo hari gagal mencopet dompet Ji Wook. Sepertinya si pencopet itu tengah mengawal bosnya seorang Yakuza. Yeon Jae langsung teringat pada Murakawa. Yeon Jae bergegas menghampiri Murakawa untuk memperingatkannya. Yeon Jae menyuruh Murakawa menghindar. Namun terlambat. Rombongan Yakuza telah mendekat. Selain mengenali Murakawa, si pencopet juga masih mengenali Yeon Jae dan Ji Wook.
"Hey, Murakawa. Aku tak percaya kau datang kembali ke pulau ini," seru sang Yakuza.
"Jangan membuat kekacauan disini. Ada pernikahan disini," balas Murakawa.
"Haruskah aku membuatnya menjadi pemakamanmu?" ancam Yakuza.

Yeon Jae mulai ketakutan.
"Tidakkah kau berpikir lebih baik jika kita kabur sekarang?" saran Yeon Jae pada Ji Wook.
"Kenapa? Kita bukan orang yang membuat masalah disini?" elak Ji Wook.
"Aku pikir lebih baik jika kita kabur," Murakawa setuju dengan saran Yeon Jae.
Ji Wook yang tak mengerti bahasa Jepang bertanya pada Yeon Jae (lupa kasih tahu kalo Yeon Jae fasih berbahasa Jepang). Yeon Jae menerjemahkan ucapan Murakawa.
"Tapi kenapa?" Ji Wook tetap ngeyel.
Tanpa aba-aba Murakawa kabur duluan. Yeon Jae menyusul kemudian. Tinggal Ji Wook yang kebingungan. Rombongan Yakuza mendekatinya dengan wajah garang. Ji Wook langsung mengambil langkah seribu. Mereka saling kejar-kejaran.
"Mengapa kita harus melarikan diri? Apa kita melakukan kesalahan?" teriak Ji Wook dibelakang Yeon Jae.
"Mereka ada di belakang kita. Tak peduli kenapa, lari saja!" seru Yeon Jae terengah-engah.
Murakawa berlari ke arah pantai. Ia naik ke atas boat dan segera menjalankan mesinnya. Ia berteriak memanggil Yeon Jae dan Ji Wook yang masih jauh di belakang. Yeon Jae sempat terjatuh. Untung saja Ji Wook sigap dengan menolongnya. Mereka berhasil naik ke boat. Salah satu dari anak buah Yakuza berhasil mengejar mereka. Ia melompat ke dalam boat. Ji Wook menghajarnya dan menceburkannya ke laut. Yeon Jae terkagum-kagum sambil memberinya applaus.

Akhirnya mereka berhasil melarikan diri. Yeon Jae menarik nafas lega.
"Kemarin pencopet. Hari ini Yakuza. Apa ada orang lain yang memiliki perjalanan seperti ini?" protes Ji Wook.
"Siapa yang tahu akan menjadi seperti ini?" sanggah Yeon Jae.


Eun Suk mendapat panggilan darurat dari kamar pasien Kim Yoo Soon yang tiba-tiba kritis. Eun Suk dan para suster berlarian masuk ke kamar Kim Yoo Soon yang mengalami cardiac arrest (perhentian jantung). Eun Suk segera mengambil tindakan CPR.


Murakawa membawa Yeon Jae dan Ji Wook ke kampung halamannya di Inagaya. Sudah 25 tahun Murakawa meninggalkan kampung halamannya. Kepulangan Murakawa disambut keharuan oleh ayahnya. 

Murakawa bercerita pada Yeon Jae dan Ji Wook jika ia menghilang karena orang-orang di Inagaya mencoba membunuhnya. Murakawa menjadi tertuduh penyebab kematian Shuuske. Murakawa mengaku tak pernah melakukan pembunuhan itu. Ia menyebut kematian Shuuske adalah sebuah kecelakaan. Selama 25 tahun Murakawa melarikan diri ke Tokyo. Alasan Murakawa kembali ke Inagaya karena ingin menyaksikan pernikahan putrinya, Erica. Yeon Jae sibuk menerjemahkan ucapan Murakawa pada Ji Wook. Mengingat putri yang sudah diterlantarkannya membuat Murakawa tak dapat menahan tangis. Yeon Jae menunjukkan empatinya dengan menepuk-nepuk bahunya. Murakawa menyuruh Yeon Jae dan Ji Wook tidur. Ia telah menyiapkan sebuah kamar. Yeon Jae langsung protes.
"Apa tak ada kamar lagi?" tanya Yeon Jae.
'Tidak," sahut Murakawa tajam kemudian berlalu pergi.
Ji Wook mencolek Yeon Jae. Ia bertanya apa yang barusan Murakawa bilang. Yeon Jae menatap Ji Wook dengan jengah.


Dokter Kepala memanggil Eun Suk untuk meminta pertanggungjawabannya atas kematian Kim Yoo Soon. Dokter Kepala khawatir kematian Kim Yoo Soon akan membawa masalah untuk rumah sakit. Kim Yoo Soon meninggal tepat setelah pengobatan dihentikan. Tim dokter tahu penyebab kematian Kim Yoo Soon bukan karena pengobatannya yang dihentikan, namun hal ini akan membuat keluarganya salah paham. Suami Kim Yoo Soon bisa saja menuduh Eun Suk yang telah membunuh istrinya. Eun Suk sama sekali tak memikirkan sejauh itu. Dokter Kepala meminta Eun Suk menenangkan suami pasien.


Tuan Kim terpekur menangis di lantai rumah sakit. Suster memberitahu Eun Suk, Tuan Kim tak mau beranjak dari tempatnya. Eun Suk mendekat. Benar saja begitu melihat Eun Suk, Tuan Kim langsung menuduh Eun Suk sebagai penyebab kematian istrinya. Tuan Kim meradang. Ia menarik kerah baju Eun Suk dan menyudutkannya ke tembok.
"Dia ingin hidup tapi dia mati karena kau. Kau membunuhnya!" seru Tuan Kim kalap.
"Lepaskan aku!" Teriak Eun Suk. "Aku bilang lepaskan aku!"
Eun Suk melempar tubuh Tuan Kim yang langsung jatuh tersungkur ke lantai. Tuan Kim menangis sesenggukan meratapi kematian istrinya dan terus-terusan menyalahkan Eun Suk. Eun Suk mulai kesal.
"Karena seseorang ingin hidup, apa itu berarti setiap orang dapat bertahan hidup? Jika ada kekuatan, dapatkah seseorang hidup selamanya? Jika kau berkata seperti itu, siapapun tak akan mati di rumah sakit ini? Tolong hentikan ini!" Seru Eun Suk tegas.
Eun Suk berbalik. Tanpa disangka semua orang sudah memenuhi lorong dibelakangnya. Baik pasien maupun orang-orang yang tengah berkunjung keluar dari kamar masing-masing setelah mendengar keributan. Eun Suk tercengang. Semua orang rasanya memandangnya sebagai dokter yang kejam, yang tak berperasaan. Eun Suk berjalan melewati mereka dengan menahan malu.


Yeon Jae dan Ji Wook masuk ke dalam kamar mereka. Disana sudah disediakan setumpuk selimut dengan 2 bantal layaknya kamar sepasang suami istri. Mereka langsung merasa tak nyaman dengan situasi di kamar itu. Akhirnya mereka sepakat membagi 2 selimut dan bantal. Mereka mengambil posisi dengan menjaga jarak.
"Kau tak berpikir ini lucu?" tanya Yeon Jae sambil senyum-senyum.
"Apa?" tanya Ji Wook balik.
"Ini seperti film tahun 70-an. Kita pergi untuk bermain. Tapi karena kapal berhenti berlayar, jadi kita tidur di dalam kamar yang sama."
Ji Wook tersenyum.
"Sebenarnya, ketika orang tuaku berkencan. Ayahku membawa ibuku ke suatu tempat dan sengaja membuat kapal mogok. Lalu mereka tidur di dalam kamar yang sama dan melakukan ciuman pertama mereka. Ibuku sepenuhnya jatuh ke dalam trik ayahku. Well, itu adalah cerita ketika aku dikandung malam itu," kisah Yeon Jae.
Ji Wook menatap Yeon Jae lurus. Yeon Jae merasa ada yang salah dengan ceritanya. Ia langsung terdiam. Ji Wook buru-buru keluar untuk mencari udara segar. Sepeninggal Ji Wook, Yeon Jae merasa menyesal telah salah memilih cerita. Di luar Ji Wook baru bisa tersenyum.

Seorang gadis Jepang berdendang dengan memainkan alat musik. Yeon Jae dan Ji Wook menikmati nyanyian itu di tempat terpisah. Setelah nyanyian berhenti Ji Wook kembali ke kamar. Yeon Jae pura-pura tertidur. Ji Wook merebahkan diri di samping Yeon Jae.
Tengah malam Yeon Jae terbangun. Ia berbalik menghadap Ji Wook. Diam-diam Yeon Jae mengagumi wajah sempurna Ji Wook. Ji Wook memiringkan tubuhnya. Yeon Jae semakin leluasa memandangi wajah Ji Wook yang terlelap. Tiba-tiba saja Ji Wook membuka matanya. Yeon Jae terhenyak.
"Kenapa?" tanya Ji Wook.
"Kau bangun," lirih Yeon Jae. Karena malu Yeon Jae segera berbalik dan berpura-pura tidur lagi.


Pagi hari mereka menikmati udara pedesaan sambil berjalan-jalan. Ji Wook bercerita ketika SD, ia pernah tinggal di desa seperti ini. Setiap pagi Ji Wook berjalan kaki menuju sekolahnya seperti jalanan yang mereka lalui sekarang ini. Saat itu Ji Wook mengaku sangat senang ketika pergi ke sekolah. Di jalan ia bisa menangkap capung dan tetesan embun. Ji Wook berkata ada banyak hal-hal menyenangkan di jalanan.
Mereka berjalan menuju pantai. Matahari baru saja terbit. Yeon Jae terperangah melihat pemandangan di pantai itu.
"Ya Tuhan! Akhirnya kita kesini," pekiknya girang. "Aku melihatnya di dalam mimpiku. Aku datang kesini untuk mencari tempat ini. Dan akhirnya aku berhasil."
Saking gembiranya, Yeon Jae langsung menceburkan dirinya ke laut. Yeon Jae merasa mimipinya seperti ramalam untuknya. Kemudian ia teringat sesuatu.
"Apa kau pernah bersekolah di luar negeri?" tanyanya.
Ji Wook mengangguk.
"Ketika kau sekolah di luar negeri, apa kau punya nama Inggris?" tanya Yeon Jae penasaran.
"Willie," jawab Ji Wook.
"Willie?" ulang Yeon Jae. "William?" tanya Yeon Jae penuh harap.
"Tidak, hanya Willie," sahut Ji Wook.
Yeon Jae agak kecewa. Mimpinya meleset sedikit.


Yeon Jae dan Ji Wook berdiri di tengah lubang karang. Yeon Jae bercerita jika keluarganya gemar bepergian, terutama ayahnya. Ji Wook menyarankan Yeon Jae untuk datang lagi kesini bersama orang tuanya. Mungkin saja Yeon Jae akan pergi menggunakan paket wisata dari Line Tour.

"Kau tak mungkin bertemu dengan ayahku. Dia sudah meninggal." Mata Yeon Jae berkaca-kaca. "Kau harus datang kesini dengan orangtuamu suatu hari nanti. Customer pertama dari paket liburan ini mungkin saja orang tuamu?"
"Aku tak mungkin datang kesini dengan ibuku. Dia sudah meninggal."
Yeon Jae terdiam. Mereka memiliki nasib yang sama ditinggalkan orang-orang tercinta.


Hujan mengguyur Inagaya pagi itu. Yeon Jae dan Ji Wook berteduh di bawah pohon rindang. Yeon Jae merasa hujan akan lama berhentinya.
"Kita tak bisa tinggal disini terus," ucap Ji Wook memutuskan berhujan-hujan ria. "Ayo..."
Yeon Jae agak ragu.
"Bukankah kau menyukai hujan saat kau masih kecil? Aku sungguh menyukainya. Keluarlah!" Ajak Ji Wook lagi yang sudah basah kuyup.
Yeon Jae akhirnya keluar. Ji Wook menggandeng tangan Yeon Jae. Mereka berlarian menantang hujan. 


So Kyeong bertemu dengan calon mertuanya, Presiden Kang. Mereka membicarakan masalah kerjasama dua perusahaan antara Line Tour dan Seojin Group. Dari calon mertuanya, So Kyeong baru tahu jika Ji Wook tengah pergi ke Jepang. So Kyeong langsung mengatur ulang jadwalnya.


Yeon Jae dan Ji Wook menonton perlombaan minum bir. Ji Wook tertarik untuk mengikuti lomba itu. Ia juga mengajak Yeon Jae untuk ikut. Para peserta diwajibkan menghabiskan segelas besar bir dalam waktu tercepat. Perlombaan dimulai. Ji Wook dan Yeon Jae saling menyemangati. Baru setengah gelas Ji Wook sudah tak kuat. Ia menyerah. Disampingnya Yeon Jae terus minum tanpa berhenti. Ji Wook ternganga. Ia malah bergantian menyemangati Yeon Jae. Yeon Jae menghabiskan birnya bersamaan dengan kontestan pria. Namun akhirnya juri memutuskan Yeon Jae lah yang memenangkan perlombaan. Yeon Jae dan Ji Wook melompat kegirangan. 


Yeon Jae mendapatkan hadiah sebuah kalung. Ji Wook mengeluh karena hadiah utamanya hanya sebuah kalung. Yeon Jae tak sependapat. Ia menyukai kalung itu. Yeon Jae berusaha memakai kalung itu. Namun karena mabuk, Yeon Jae mengalami kesulitan. Ji Wook menawarkan diri membantu memasangkan kalung itu. Hal itu membuat wajah mereka saling berdekatan. Mereka saling berpandangan dalam diam. Yeon Jae semakin merapat ke wajah Ji Wook. Namun tiba-tiba ia cegukan. Ji Wook juga ketularan. Mereka tertawa geli.


Yeon Jae dan Ji Wook kembali ke hotel. Mereka tampak semakin akrab. Tanpa disadari So Kyeong sudah ada disana. So Kyeong sengaja menyusul Ji Wook ke Jepang. So Kyeong memandangi keakraban mereka dengan pandangan tajam. Yeon Jae dan Ji Wook asyik mengobrol hingga tak menyadari kehadiran So Kyeong.
So Kyeong berjalan ke arah mereka. Ji Wook tengah menakut-nakuti Yeon Jae tentang Yakuza yang mungkin saja ada di hotel. Yeon Jae termakan tipuan Ji Wook. Ia mulai ketakutan.
"Benarkan? Dimana?" serunya panik.
"Disana! Disana!" Tanpa sadar Ji Wook menunjuk ke arah So Kyeong yang tengah berjalan mendekati mereka.
Yeon Jae menoleh ke arah So Kyeong. Ia terperanjat begitu melihat kehadiran So Kyeong.
"Apa yang kalian lakukan berdua?" tanya So Kyeong dengan tatapan bengis.
"Siapa kau?" tanyanya tajam pada Yeon Jae.
Wajah Yeon Jae pias. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS